Sabtu, 20 September 2008

Ketika Akhirnya Saat Memutuskan Itu Tiba ...

. Sabtu, 20 September 2008 .



Ketika akhirnya saat memutuskan itu tiba… Aku tahu aku kehabisan cara untuk mencari-cari alasan, hal yang selalu aku lakukan saat berhadapan dengan kata: menikah. Bayangan tentang sosok seorang pria yang akan selalu ada disampingku selama aku ada di dunia, seseorang yang akan jadi orang yang paling tahu tentang diriku, bahkan lebih dari ibuku. Lalu aku merasa akan tertelanjangi luar dalam. Rasa ini yang mungkin pernah membuatku ragu untuk segera menikah.

Aku memang seorang perempuan yang tak ingin merasa terikat. Aku selalu membayangkan diriku seekor kijang yang berlari dengan bebasnya di dalam rimba raya tanpa ada siapapun dan apapun yang membuat kaki lincahnya berhenti melompat. Kenikmatan dalam melakukan keinginan-keinginanku nampaknya membuatku begitu segan memiliki seseorang yang aku pikir bisa membuat langkahku terseret. Sementara rimba ini begitu luas dan aku cuma ada ditepian sebuah danau saja. Aku masih ingin melakukan apa pun kemanapun sesuai keinginan. Menikmati hidangan Allah di alam ini. Tak peduli apa yang orang katakan, tak peduli apa yang orang inginkan denganku. Aku merasa paling berhak dengan kehidupanku. Sosok suami bisa menjadi hambatan bagi kemajuan seorang perempuan karena ia dituntut untuk patuh pada suaminya. Mungkin itu gambaran yang sedikit banyak mempengaruhi pikiranku. Belum lagi ketika harus hadir seorang anak.

Namun kini ketika tiba-tiba ada sebentuk cinta sederhana yang ditawarkan kepadaku, aku termanggu. Tak bisa aku berkata. Tulus, apa adanya. Segala teori dan argumentasiku membisu. Tiba-tiba ada rasa aneh yang mengelus rasaku, dan aku tahu itu kerinduan. Rasa ingin dilindungi, rasa nyamannya berteduh. Rasa ingin disayangi, ingin menjadi orang yang istimewa untuk seseorang, ingin merasakan indahnya berkorban, bahagianya memberi. Bagaimana rasanya dipaksa untuk memahami orang lain hingga keterpaksaan itu bermuara pada keikhlasan. Ingin mencoba memaknai kepatuhan dari sudut pandang Allah, merasakan apa maksud Allah menyuruh seorang istri patuh pada suaminya.

Rasa ini menjelma menjadi sujud-sujud panjang yang basah di tengah sunyinya malam. Begitu lama aku belum lagi merasakan kemesraan berkhalwat dengan-Nya. Entah mengapa hadirnya nama seorang pria membuatku ingin sekali lagi memeluk Allah dan berbisik; Tuhan, diakah cinta dari-Mu? Allah… benarkah ini?...

Ditawarkan sebuah cinta dari hamba-Nya, aku malah berlari mengejar kasih-Nya. Malam-malam sunyi yang biasanya membuaiku kini aku terangi dengan rakaat-rakaat panjang diakhiri bisikan basah yang jatuh di tanganku. Memohon ilmu-Nya yang menyamudra memilihkan yang terbaik untukku. Menyerahkan jiwa ragaku dalam tangan-Nya. Meluaskan hati ini untuk cinta-Nya. Aku benar-benar merasa jatuh cinta pada-Nya. Duhai… apakah ini?... Hadirnya pria itu membuatku begitu dekat dengan Allah. Inikah jawabannya, Kekasih?...

Kebersamaanku dengan Allah menuaikan keyakinan dalam diriku. Dia seperti membisikkan entah dengan apa, tapi aku merasa yakin ini benar, bahwa inilah jalan kebaikan yang Allah bukakan untukku. Pintu ini dan saat ini.

Maka ketika Allah telah membuka pintu-Nya untukku, seberapa hebatkah diriku menolak untuk melangkah ke dalamnya? Mungkin aku tak tahu apa yang akan aku hadapi saat melewati teras rumah-Nya, tapi aku tahu Dia ada bersamaku, di dalam diriku.

Dan aku akan punya seseorang yang akan selalu menggandeng tangan dan menguatkan langkahku, menuju diri-Mu, Allah…

(Read More..)

Kamis, 18 September 2008

Cinta Sejati

. Kamis, 18 September 2008 .

Cinta, Kata Ibnu Qayyim al-Jauziyyah adalah, ''Sesuatu yang menggerakkan seorang pecinta untuk mencari yang dicintainya, dan kecintaannya akan sempurna manakala ia telah mendapatkannya. Maka, saat yang dicintainya disebutkan, serta merta hatinya akan tergerak, bangkitlah jiwanya, dan tergugah lahir batinnya meski sekadar disebut namanya. Sebaliknya, ketika yang tidak dicintainya disebutkan, sedikit pun tidak tergerak relung hatinya.''

Cinta identik dengan ketergantungan. Seseorang yang dilanda rasa cinta, maka ia tengah bergantung pada objek yang dicintainya. Cinta yang sejati adalah kecintaan yang bergantung pada objek yang kokoh, bersifat kekal dan abadi, dialah Allah Swt.

Ketika rasa cinta putus kepada-Nya, maka objek yang dicintai tidak ikut putus dan menghilang, tetapi tetap langgeng (baqa). '' ketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan [ketika] segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.'' (QS Al-Baqarah: 166).

Cinta tidak mengenal batas objek yang dicintai. Mencintai kepada sesama mahluk-Nya bukanlah cinta terlarang. Namun, agar cinta itu menjadi sempurna haruslah alasan kecintaannya tersebut semata-mata karena Allah Swt, bukan yang lain.

Cinta karena Allah merupakan bias dari keimanan. Sabda Rasul Saw, sebagaimana hadis dari Anas bin Malik r.a, ''Dan ia mencintai seseorang tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah.''(HR Bukhari-Muslim).

Kini budaya mencintai begitu merajalela di negeri kita. Dengan dukungan media massa baik cetak maupun elektronik, cinta disosialisasikan dalam berbagai bentuk. Sayang, sebagian besar bergantung pada objek cinta yang semu, bersifat temporal, dan fana. Cinta harta, kekuasaan, jabatan, kewibawa, ketenaran, menjadi tren cinta masa kini.

Generasi muda menjadi sasaran yang paling utama. Eksplorasi rasa cinta mereka diumbar dengan memuja kaum selebriti sebagai objek cinta. Mereka bahkan dikultuskan menjadi panutan hidup.

Tatkala yang dicintainya disebutkan, serasa belum sempurna ekspresi cinta mereka bila belum diungkapkan lewat jeritan histeris, deraian air mata, jatuh pingsan, bahkan mengorbankan kehormatan. Walhasil, cinta yang seharusnya membentuk kepedulian sosial yang tinggi, malah melahirkan pada jiwa-jiwa pengusungnya sikap hedonis dan egoistis.

Moga bermanfaat yach.....

(Read More..)
 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com